Esai

Anatomi

SW60Plus.com, 22 Juni 2026, 08:07 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 9x dilihat

DI NETFLIX masih ada Anatomy of a Scandal. Isinya skandal politik, rahasia gelap, dan kehidupan elit yang berantakan. Tulisan ini tidak semewah itu. Tidak ada anggota parlemen, tidak ada ruang sidang. Yang ada hanya kepanikan—dan percayalah, di banyak organisasi, dampaknya kadang lebih dramatis daripada serial Netflix itu sendiri.

Ada satu kenyataan yang kadang tidak nyaman didengar para pemimpin: hampir semua orang terlihat hebat ketika keadaan sedang baik-baik saja. Saat target tercapai, pelanggan senang, dan laporan keuangan positif, memimpin terasa seperti mengendarai mobil di jalan tol yang sepi.

Ujian kepemimpinan yang sebenarnya adalah ketika badai datang. Pada saat itulah kepemimpinan diuji. Bukan di ruang seminar yang sejuk, melainkan di tengah kekacauan yang nyata. Bahkan, kalau kita merujuk pada kajian kepemimpinan Peter Northouse baru-baru ini, kualitas seorang pemimpin baru benar-benar bisa diukur saat perusahaannya sedang ditekan dari berbagai arah.

Jeff Immelt memahami betul pelajaran ini. Pada 10 September 2001, ia resmi menjadi CEO General Electric (GE). Sehari kemudian, dunia menyaksikan tragedi 11 September yang mengguncang Amerika Serikat dan mengubah konstelasi bisnis dalam hitungan jam.

Bayangkan situasinya. Baru sehari menerima jabatan baru, belum sempat menikmati kopi di kantor CEO, tiba-tiba dunia masuk mode darurat.

Dalam bukunya Hot Seat (2021), Immelt mengingat bagaimana ia harus menghadapi ketidakpastian yang luar biasa. Sebagai CEO baru, ia tidak memiliki kemewahan untuk sekadar berkata, “Tunggu sebentar, saya masih berorientasi pada jabatan.”

Padahal di luar sana, ribuan karyawan, pelanggan, investor, dan mitra bisnis sedang menunggu arahannya sesegera mungkin. Pada saat genting seperti itu, orang tidak mencari pemimpin yang paling pintar di ruangan. Mereka mencari pemimpin yang paling tenang.

Immelt sendiri sama sekali tidak merasa dirinya seperti pahlawan super yang tidak takut. Ia malah secara terbuka mengakui bahwa tekanan saat itu begitu brutal, sampai-sampai membuatnya mual hampir sepanjang waktu. Pengakuan jujur ini sangat penting. Sering kali kita memiliki gambaran yang keliru, membayangkan pemimpin hebat itu tidak pernah panik dan selalu memiliki jawaban. Kenyataannya sama sekali tidak demikian.

Beda antara pemimpin tangguh dan pemimpin karbitan bukan pada ada atau tidaknya rasa takut. Perbedaannya terletak pada apa yang dieksekusi setelah rasa takut itu muncul. Immelt menulis satu kalimat sederhana dengan makna yang mendalam: "The best leaders absorb fear." Pemimpin yang baik itu ibarat spons. Mereka menyerap ketakutan yang beredar di sekitarnya, menelannya, lalu mengubahnya menjadi arah dan tindakan yang logis.

Bayangkan perusahaan Anda sedang mengalami penurunan omzet yang tajam atau krisis reputasi. Di saat seperti ini, kepanikan pasti merajalela. Karyawan akan mulai saling berbisik: apakah perusahaan ini akan bertahan? Pekerjaan saya masih aman, tidak? Mengutip peringatan dari Kouzes dan Posner, komunikasi yang buruk di tengah ketidakpastian seperti ini hanya akan memperbesar kecemasan dan mengipasi api rumor.
Sering kali, kepanikan massal itu muncul bukan karena skala masalahnya yang terlalu besar. Orang panik karena mereka buta informasi. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Karena itulah, seorang pemimpin wajib hadir. Hadir bukan hanya sekadar absen fisik, tetapi juga hadir secara emosional. Ia harus mampu menjelaskan situasi seburuk apa pun dengan jujur, tanpa membuat timnya semakin histeris. Immelt menegaskan bahwa pemimpin sejati itu bersikap terbuka, tetapi mereka tidak berjualan kepanikan (they don't traffic in panic).

Heifetz dan Linsky (2002) menawarkan perspektif yang sangat melegakan. Tugas utama pemimpin di masa krisis ternyata bukan untuk menihilkan kecemasan karyawan hingga nol persen. Tugas utamanya adalah mengelola kecemasan tersebut. Pastikan levelnya tetap pas—cukup untuk membuat orang waspada, agar tim tetap bisa berpikir tajam dan bertindak secara efektif.

Ada lelucon lama di dunia korporat: informasi resmi butuh 3 hari untuk turun, sementara gosip hanya butuh 3 menit untuk menyebar. Terdengar berlebihan, tetapi penelitian komunikasi membenarkan hal tersebut. Ketika saluran informasi formal mampet, orang secara otomatis akan mengisi kekosongan itu dengan spekulasi liar mereka sendiri.

Pelajaran ini terasa sangat relevan hingga hari ini. Saat pandemi COVID-19 kemarin, organisasi yang berhasil selamat umumnya dipimpin oleh orang-orang yang berkomunikasi dengan jernih. Mereka tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi juga tidak membiarkan ketakutan menguasai seluruh percakapan.

Saya ingat, saat pandemi memuncak, ada beberapa pimpinan yang rutin membuat video singkat setiap Jumat sore. Isinya sederhana, hanya lima menit. Tapi tebak? Video amatir itu jauh lebih ditunggu karyawan daripada laporan bulanan tebal yang kaku.

Salah satu direktur yang saya kenal bahkan merekam videonya cuma pakai kamera handphone dari ruang kerjanya. Pencahayaannya seadanya. Namun, karyawan justru merasa lebih dekat karena mereka melihat sosok manusia sungguhan yang sedang memimpin mereka, bukan sekadar titel jabatan.

Krisis itu bagaikan serum kejujuran yang mengungkap karakter asli seseorang. Saat keadaan normal, semua manajer tampak kompeten. Semua orang punya strategi di atas kertas PowerPoint yang grafiknya naik ke kanan atas. Namun, ketika turbulensi datang, topeng itu akan lepas.

Alih-alih diam membeku, pemimpin yang tangguh langsung fokus pada tindakan. Mereka tahu bahwa tidak semua variabel bisa dikendalikan. Tapi mereka juga sadar, selalu ada "langkah darurat berikutnya" yang bisa diambil. Di dunia akademik, ini sering disebut sebagai adaptive leadership—kemampuan kapten kapal untuk terus menggerakkan kemudi ke depan, meski peta utuhnya belum terlihat jelas (Northouse, 2022).

Immelt juga menampar kita dengan satu realita keras: hadapilah kenyataan apa adanya. Bukan kenyataan yang Anda harapkan, melainkan kenyataan jelek yang benar-benar ada di depan mata. Banyak kapal perusahaan yang karam karena bosnya lebih memilih berlindung di balik optimisme semu daripada membereskan kebocoran pada lambung kapal.

Setelah merefleksikan pengalaman Immelt, saya jadi curiga. Jangan-jangan, banyak pemimpin itu bukannya takut pada krisisnya. Mereka hanya takut terlihat bodoh karena tidak tahu jawabannya. Padahal dalam kondisi darurat, bawahan jauh lebih respek pada bos yang berani bilang, "Saya belum tahu solusinya, tapi mari kita cari tahu sekarang." Yang lebih berbahaya adalah pemimpin yang berpura-pura tahu jalan, lalu dengan penuh keyakinan membawa organisasinya ke arah yang salah.

Di akhir hari, dalam situasi krisis, orang hanya ingin dipimpin. Mereka tidak menuntut kesempurnaan. Mereka hanya ingin tahu bahwa ada seseorang di depan sana yang sadar akan bahayanya, punya kompas yang jelas, dan bersedia basah-basahan melewati badai bersama mereka.

Dalam situasi normal, kita menghargai orang yang cerdas. Namun, ketika krisis datang, yang paling dicari bukanlah kecerdasan semata. Yang dicari adalah ketenangan, kejujuran, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan apa adanya.

Karena pada akhirnya, tugas pemimpin bukan untuk menghilangkan badai. Tidak semua badai bisa dihentikan. Tugas pemimpin adalah membantu orang lain tetap bergerak maju ketika langit mulai gelap dan arah perjalanan tidak lagi terlihat jelas.

Dan sering kali, kehadiran yang tenang jauh lebih berharga daripada jawaban yang sempurna.

DAFTAR PUSTAKA
Heifetz, R. A., & Linsky, M. (2002). Leadership on the line: Staying alive through the dangers of leading. Harvard Business Review Press.
Immelt, J. R., & Wallace, A. (2021). Hot seat: What I learned leading a great American company. Simon & Schuster.
Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2023). The leadership challenge: How to make extraordinary things happen in organizations (7th ed.). John Wiley & Sons.
Northouse, P. G. (2022). Leadership: Theory and practice (9th ed.). SAGE Publications.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000