Esai

Jabatan

SW60Plus.com, 20 Juni 2026, 18:02 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 2x dilihat

JUJUR  saja, kita sering keliru menilai karakter seseorang hanya dari cara bicaranya saat interview kerja atau rapat. Kalau kita rajin baca buku manajemen atau ikut pelatihan kepemimpinan, rasanya gampang banget merumuskan kriteria atasan yang ideal. Padahal, di dunia nyata, ujian kepemimpinan itu jauh lebih sederhana, tapi efeknya sering bikin kaget.

Semalam, saat sedang baca-baca, saya menemukan cerita menarik dari zaman Yunani Kuno tentang seorang tokoh bernama Pittacus. Di buku The Ten Golden Rules of Leadership, dia disebut sebagai salah satu dari tujuh orang bijak (Seven Sages). Yang bikin dia luar biasa sebenarnya bukan cuma karena dia pintar. Setelah 10 tahun memimpin kotanya dengan adil, dia melakukan hal yang sangat langka: mundur secara sukarela. Dia sadar tugasnya sudah selesai. Tidak  ada cerita dia nempel terus di kursi jabatan atau sibuk bangun dinasti. 

Dari pengalamannya, lahir satu pepatah yang menurut saya sangat relevan sampai hari ini: "Office shows the person" — jabatan menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya.

Coba perhatikan sekeliling kita. Kasus seperti ini sering banget terjadi di kantor. Ada rekan kerja yang dulunya ramah, asyik diajak ngobrol, dan enak diajak kerja bareng. Tapi begitu dipromosikan jadi manajer atau direktur, sifatnya berubah 180 derajat. Pintu ruangannya tiba-tiba selalu tertutup, susah ditemui, dan mulai suka memotong omongan bawahan.

Sebenarnya, jabatan baru itu tidak mengubah dia jadi orang yang arogan. Jabatan itu hanya memberinya panggung dan "rasa aman" untuk mengeluarkan sifat aslinya. Kekuasaan, pada akhirnya, justru membongkar rasa insecure (tidak percaya diri) yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat demi kelancaran karier.

Sekarang, coba kita bandingkan dengan tokoh-tokoh besar. Lihat Ratan Tata waktu dia masih memegang kendali penuh atas Tata Group—salah satu konglomerasi terbesar di dunia. Punya kuasa atas uang triliunan tidak lantas menyulapnya jadi bos yang elitis dan tidak tersentuh. Sebaliknya, jabatannya justru memperlihatkan karakter aslinya: empati.

Waktu terjadi serangan teroris di Hotel Taj Mumbai, dia tidak  cuma memantau dari jauh. Dia turun langsung, memastikan semua karyawan dan bahkan pedagang kaki lima di sekitar hotel yang jadi korban mendapatkan santunan dan jaminan hidup. Kekuasaan absolut tidak merusaknya, malah memberinya kapasitas lebih besar untuk membantu orang lain.

Di sejarah Islam, kita juga punya contoh yang sangat kuat. Ketika Umar bin Khattab diangkat menjadi Khalifah dengan wilayah kekuasaan yang luar biasa luas, jabatan itu tidak membuatnya sibuk membangun istana atau minta dikawal ketat ke mana-mana. Sebaliknya, kekuasaan tertinggi itu justru memperlihatkan rasa takutnya kepada Tuhan dan tanggung jawabnya pada rakyat.

Bayangkan, seorang pemimpin tertinggi rela memanggul sendiri karung gandum di tengah malam untuk warganya yang kelaparan. Punya otoritas tidak bikin dia mabuk kekuasaan, malah bikin dia makin menunduk.

Inilah intinya. Jabatan itu ibarat kaca pembesar yang menarik keluar apa pun yang ada di dalam hati kita. Ia merobek topeng "personal branding" yang selama ini dibangun susah payah di depan publik. Ketika seseorang merasa tidak ada lagi atasan yang perlu ditakuti, dan setiap kata-katanya jadi aturan mutlak buat bawahan, di detik itulah kita sedang melihat wajah aslinya.

Di dunia kerja, fenomena ini kelihatan setiap hari. Pemimpin yang matang secara mental tidak butuh jabatan tinggi untuk merasa berharga. Dia memimpin untuk melayani, memberi ruang buat timnya berkembang, dan berani pasang badan kalau ada masalah. Timnya bekerja karena percaya, bukan karena takut.

Sebaliknya, pemimpin yang batinnya rapuh akan memakai kekuasaan sebagai tameng. Jabatan dipakai untuk menutupi rasa takut, keraguan, dan egonya sendiri. Tanpa disadari, atasan tipe ini pelan-pelan menghancurkan kepercayaan tim dan merusak organisasi dari dalam. Banyak pemimpin jatuh bukan karena kurang pintar, tapi karena gagal mengatur egonya.

Pada akhirnya, Pittacus benar. Jabatan bukanlah sekadar posisi di struktur organisasi, melainkan ujian moral setiap hari. Kekuasaan tidak pernah mengubah sifat dasar manusia; ia hanya memperbesar apa yang selama ini disembunyikan.***

DAFTAR PUSTAKA 

Diogenes Laertius. (1925). Lives of eminent philosophers (R. D. Hicks, Trans.). Harvard University Press.

Soupios, M. A., & Mourdoukoutas, P. (2015). The ten golden rules of leadership: Classical wisdom for modern leaders. AMACOM.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000