Feature

Takdir Pinggiran dan Dekorasi Batin Rombout Uylenburg

SW60Plus.com, 05 Oktober 2026, 05:46 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 12x dilihat

LEMBARAN gambar bersampul kulit tua itu dihiasi huruf-huruf emas berbunyi Konstboeck voor Reyer Claessoon. Saat membacanya, kita seperti berjalan di sebuah lorong berdebu. Waktu tak lagi dihitung dengan detik lambat jam dinding. Melainkan dengan pudarnya partikel pigmen di atas kertas biru yang diakui sebagai pusaka senirupa terpenting di Belanda itu. 

Buku sketsa karya Rombout Uylenburg itu didonasikan oleh keluarga Van Eighen—kini disebut Van Eeghen Drawing Book. Ia baru saja bersandar di Rijksmuseum di Amsterdam, setelah tiga abad dirawat sebuah keluarga. Ada sekitar tiga puluh gambar di dalam buku seni kuno Konstboeck. Yang paling menohok mata batin adalah adegan-adegan biblikal: gembala-gembala yang terkejut oleh wahyu langit malam, atau kisah-kisah masa kecil Sang Juru Selamat.

Rombout sering menggunakan kertas biru sebagai media dasar. Kertas biru pada abad ke-17 bukanlah pilihan netral. Ia memberikan kelembapan atmosfer, malam abadi yang belum disengat terik matahari. Karena buku ini terkunci rapat dari jilatan cahaya selama empat ratus tahun, pigmen-pigmen itu seolah menolak tua. Atmosfernya temaram yang sangat mendukung lukisan-lukisan bertema Bible.

Di sini, narasi Bible bukan lagi drama teatrikal berdarah-darah ala Barok Italia yang berteriak-teriak meminta keimanan. Rombout memperlakukan kisah-kisah suci itu sebagai keheningan internal. Gembala-gembala itu tunduk dalam keremangan, seolah menyadari bahwa Yang Ilahi tak pernah datang dengan gempa bumi, tapi dalam kerlip bintang yang hampir padam.

Di titik ini, kita merenungkan paradoks sebuah buku seni (konstboeck). Pada masa itu, buku gambar bukanlah komoditas komersial yang dirobek untuk dijual lembar demi lembar ke galeri jalanan. Ia adalah benda sakral privat, sebuah catatan harian visual. Tempat tangan seorang pelukis istana meraba-raba wujud iman di antara kesibukan melayani titah raja asing dan kebosanan birokrasi maritim di kota pelabuhan Danzig (kini bernama Gdansk) di Polandia.

Rombout Uylenburgh (1585-1628) adalah pelukis istana abad ke-17 yang lama terbenam dalam senyap. Ia kini hadir kembali lewat karya-karya bernuansa biblikal dalam lembar-lembar kertas biru tadi. Sketsa yang menampilkan renungan tentang sunyi, bayang-bayang kelam, dan marginalitas sejarah seni di antara bayang-bayang megah sang ipar, maestro Rembrandt van Rijn. 

Pelukis asal Leeuwarden, Friesland, propinsi di utara Negeri Kincir Angin ini memang akrab dengan tepi sejarah. Namun, ketika lembaran religius itu dibuka, kita segera sadar: yang disebut "tepi" sering kali menyimpan kedalaman yang gagal ditangkap oleh keriuhan pusat panggung. Namanya yang tenggelam dalam ketidakpastian sejarah, kini kembali mencuat sebagai salah satu master monokrom berkat penemuan karya-karyanya baru-baru ini.

Rombout wafat pada sekitar tahun 1627. Taka ada yang membekas, sunyi lekas menutup jejaknya. Karyanya lenyap dari percakapan, seakan abu tungku yang tertiup angin salju Polandia. Ia bukan siapa-siapa dalam kanon besar Zaman Keemasa Belanda, sampai sebuah buku sketsa peninggalan keluarga Van Eeghen tadi ditemukan dan dibuka kembali setelah hampir seabad terkurung dalam gelap.

Rombout hidup di zaman ketika seni rupa Belanda sedang merayakan keduniawian yang tumpah ruah. Abad ke-17 adalah abad pasar. Saat itu borjuasi baru di Amsterdam membeli lukisan potret diri dengan kerah renda berlapis, buah-buahan ranum yang mulai membusuk di atas meja perak, atau lanskap kanal yang dipenuhi kapal dagang. 

Tapi ia justeru berpaling. Ia pergi jauh ke timur, melayani Istana Polandia di Kraków dan akhirnya menetap di pelabuhan Danzig. Di kota pelabuhan yang dingin itulah ia merajut peran pentingnya yang sunyi: menerjemahkan narasi besar Bible berupa dekorasi teks dan ilustrasi kitab suci. Bukan sebagai dogma teologis yang megah, tapi sebagai getaran batin yang asketis melalui tradisi grisaille.


Grisaille adalah sebuah teknik monokromatik yang bersandar sepenuhnya pada gradasi warna abu-abu, cokelat, sepia dan putih--dalam bahasa Belanda kuno disebut graeuwtjes. Melalui teknik ini, ia tidak mengandalkan kemewahan warna, melainkan kedalaman drama pencahayaan (chiaroscuro), tekstur, dan anatomi objek yang sangat intim.


Bakatnya yang menonjol membuatnya diangkat menjadi pelukis istana untuk Raja Sigismund III Vasa dari Polandia—disana disebut Zygmunt III Waza. Ia adalah penguasa monarki paling berpengaruh di Eropa Tengah yang menjabat sebagai Raja Polandia dan Haryapatih Lituania (penguasa Persemakmuran Polandia-Lituania) dari tahun 1587 hingga 1632. Selain itu, ia juga sempat bertakhta sebagai Raja Swedia dari 1592 hingga digulingkan pada 1599.

Mengapa Alkitab di tangan Rombout tidak bersinar dengan warna emas para santo atau merah darah para martir Katolik Roma ala Barok Italia? Jawabannya mungkin tersembunyi di balik keyakinannya. Rombout, sebagaimana Reyer Claesz, pemilik asli buku sketsa itu, adalah seorang pengikut Anabaptis-Mennonit. Kaum ini memilih jalan kesederhanaan yang radikal. Mereka menolak kemewahan duniawi, menjauh dari struktur gereja yang hierarkis, dan mencari Tuhan dalam keheningan pembacaan teks suci secara personal.

Bagi seorang pelukis Mennonit, menggambar pemandangan Alkitab adalah sebuah laku spiritual, sebuah "dekorasi batin" terhadap firman. Peran penting Rombout dalam tradisi visual biblikal terletak pada kemampuannya mereduksi kebisingan dunia menjadi esensi murni lewat graeuwtjes (panel abu-abu kecil). Ketika warna dihilangkan dari sebuah kisah suci, yang tersisa hanyalah drama cahaya dan kegelapan—chiaroscuro yang tidak teatrikal, melainkan kontemplatif.

Lihatlah ilustrasi adegan para gembala yang menerima kabar kelahiran Yesus di dalam Konstboeck tersebut. Di atas kertas biru yang muram, Rombout menorehkan tinta abu-abu dan sapuan putih untuk menghidupkan malam di Betlehem. Cahaya malaikat tidak datang seperti ledakan kembang api yang menerangi seluruh jagat. Melainkan sebentuk pijar lembut yang menyorot wajah-wajah kasar para gembala, jubah-jubah wol mereka yang tebal, dan ternak yang mendekam di tanah dingin. 

Di sini, dekorasi kitab suci bukan lagi sebagai upaya untuk mendikte keimanan penonton lewat keagungan visual gereja katedral. Rombout membawa pembacanya kembali ke realitas yang paling bersahaja: bahwa Yang Ilahi kerap memilih menyapa manusia di tempat-tempat yang paling gelap, paling miskin, dan paling tak terduga.

Dalam sejarah ilustrasi Bible, peran Rombout sering kali luput karena karyanya tidak dimaksudkan untuk dicetak massal sebagai cukil kayu di halaman depan buku suci di saku para saudagar. Karyanya adalah "dekorasi" dalam arti yang paling intim—sebuah visualisasi yang mendampingi perenungan pribadi pemilik buku. Fakta bahwa lembaran-lembaran ini dikerjakan di atas kertas biru memberikan atmosfer yang tidak dimiliki oleh kertas putih komersial. Kertas biru menyerap cahaya, menciptakan kesan malam abadi atau fajar yang tak kunjung pecah.

Pada lembar-lembar inilah Rombout meletakkan emosi yang pekat. Kisah Rest on the Flight to Egypt (Istirahat dalam Pengungsian ke Mesir)—sebuah tema yang juga ia lukis dan kini tersimpan di Rijksmuseum—menampilkan Maria, Yusuf, dan Bayi Yesus bukan sebagai figur suci berhalo cahaya, melainkan sebagai sebuah keluarga pengungsi yang letih. Mereka duduk di bawah naungan pohon tua yang rindang, dikelilingi oleh bayang-bayang abu-abu yang pekat. Yusuf tampak terjaga dengan gundah, sedangkan Maria memeluk erat anaknya di tengah ketidakpastian lanskap yang asing.

Peran penting Rombout adalah menjembatani jarak antara teks kitab yang purba dengan penderitaan manusiawi yang universal. Bagi komunitas Mennonit yang kerap mengalami persekusi dan harus berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain (seperti migrasi orang-orang Belanda ke Danzig), kisah pengungsian ke Mesir bukan sekadar cerita masa lalu. Itu adalah cermin kehidupan mereka sendiri. Melalui goresan kuas monokromnya, Rombout mendekorasi ingatan kolektif jemaatnya: bahwa Tuhan merasai pengasingan mereka.

Selama berabad-abad, nama Rombout tenggelam di bawah bayang-bayang raksasa iparnya, Rembrandt van Rijn, yang menikahi sepupunya, Saskia van Uylenburgh. Sejarah seni rupa dunia berutang besar pada Hendrick Uylenburgh (saudara Rombout) yang menjadi mentor bisnis Rembrandt. Di tengah gemerlap Amsterdam tempat Rembrandt melukis The Night Watch, Rombout wafat di Danzig sekitar tahun 1627--dan dilupakan.

Namun, teka-teki sejarah selalu punya cara aneh untuk selesai. Ketika sejarawan seni C.P. van Eeghen pada tahun 2013 berhasil mengidentifikasi kemiripan gaya antara sketsa di dalam buku keluarga mereka dengan lukisan Rombout, sebuah pintu rahasia terbuka. Penemuan buku gambar ini menuntun para kurator pada atribusi rangkaian lukisan biblikal monokrom yang tergantung tanpa nama di dinding-dinding kayu gelap Museum Ons' Lieve Heer op Solder (Tuhan Kita di Loteng). Ini sebuah gereja Katolik rahasia yang tersembunyi di loteng sebuah rumah borjuis di pusat Amsterdam.

Ironi ini sungguh dahsyat. Seorang pelukis Mennonit yang menghabiskan hidupnya merenungkan kesederhanaan iman. Karyanya justru menjadi bagian dari dekorasi spiritual sebuah gereja loteng rahasia tempat kaum Katolik Amsterdam yang beribadah di tengah tekanan mayoritas Kalvinis. 

Hal ini membuktikan bahwa seni rupa biblikal Rombout melampaui sekat-sekat sektarian. Keheningan abu-abu yang ia ciptakan memiliki bahasa yang universal. Ia bisa berbicara kepada seorang Mennonit di Danzig, seorang Katolik yang berdoa sembunyi-sembunyi di loteng Amsterdam, mau pun seorang manusia moderen yang berdiri termangu di depan vitrin kaca Rijksmuseum hari ini.

Apa yang kita pelajari dari Rombout Uylenburgh? Mungkin sebuah keikhlasan estetis. Di dunia modern yang bising, ketika setiap orang berebut warna yang paling mencolok dan lampu sorot yang paling terang, grisaille Rombout adalah sebuah interupsi. Ia mengingatkan kita bahwa ada kekuatan tersembunyi dalam batasan. Dengan hanya menggunakan warna abu-abu, cokelat, dan putih di atas kertas biru, ia mampu menghadirkan seluruh spektrum emosi manusia di hadapan firman: ketakutan, kepasrahan, keintiman, dan harapan. 

Melihat karya biblikal Rombout hari ini, kita seperti membaca catatan pinggir dari sebuah buku tebal sejarah seni rupa Belanda. Dan seringkali, pembaca yang jujur tahu: kebenaran yang paling intim tidak pernah ditulis di halaman pengantar, melainkan di marjin—di sudut-sudut sempit tempat tinta meluber dan tangan penulisnya yang gemetar karena letih.

Rombout tak pernah menjadi matahari seperti Rembrandt. Tidak pula menjadi penguasa pasar seperti Hendrick. Ia tetap menjadi catatan pinggir. Namun, tanpa catatan yang ditulis dengan ketelitian iman seperti yang dilakukan Rombout di dalam Konstboeck voor Reyer Claessoon, narasi besar sejarah seni rupa Zaman Keemasan Belanda akan kehilangan separuh dari jiwanya yang paling jujur.

Di ruang cetak Rijksmuseum, atau di museum Ons' Lieve Heer op Solder, karyanya kini bisa kita nikmati. Karya-karya masterpiece itu mengajarkan kita bahwa tidak semua keindahan diciptakan untuk menjadi matahari. Sebagian keindahan memilih menjadi lumut di dinding batu gereja tua: tersembunyi, lembap, dan baru ditemukan ketika orang-orang berhenti berlari mengejar bising..***

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000