Esai

Sejarah, Antara Masa Lalu dan Masa Depan

SW60Plus.com, 29 September 2026, 16:52 WIB
Renville Almatsier
Renville Almatsier
· 34x dilihat

TANGGAL 30 September setiap tahun akan berlalu seperti hari-hari biasa lainnya, seandainya tidak ada peristiwa penting ini di tahun 1965.Apa yang terjadi pada malam menjelang  subuh 30 September 1965 dan hari-hari selanjutnya, kemudian kita kenal sebagai Peristiwa G30S/PKI

Pagi keesokan harinya, di rumah yang berseberangan dengan asrama pasukan khusus pengawal presiden, secara bergantian Ayah, Ibu dan saya terus nongkrong  di depan pesawat radio. Hingga malam hari bagi kami masih belum jelas betul apa yang terjadi. Apalagi radio silih berganti melaporkan siaran dari berbagai pihak yang tidak jelas identitasnya, termasuk perintah harian Men Pangau dan radiogram AURI. Membingungkan karena saling bertentangan.
Sebagian besar rakyat, termasuk saya, mulai bisa mereka-reka apa  yang terjadi ketika layar televisi menayangkan penggalian sumur-sumur di Lubangbuaya.

Beberapa hari kemudian, pada hari Angkatan Perang 5 Oktober 1965, naik sepeda saya ikut mengantar jenazah para pahlawan revolusi di depan Markas Besar Angkatan Darat. Berderet panser Sarasin, mengangkut jenazah, dilepas oleh  (almarhum) Jenderal A.H.Nasution yang berdiri dibantu tongkat penyangga. Semua itu menjadi fakta tentang apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

Kini, 61 tahun sudah berlalu. Berbagai kisah tentang apa yang terjadi malam itu kemudian menjadi catatan sejarah yang diketahui umum. Sampai beberapa tahun lalu ketika muncul fakta-fakta kontroversi tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa serta siapa yang ikut berperan di dalamnya.

Walau sudah begitu lama berlalu, peristiwa itu selalu kembali menjadi sorotan publik terutama pada saat-saat negara memperingatinya, seperti hari ini. Perdebatan kembali mengemuka, narasi-narasi resmi bermunculan pertanyaan lama terus berulang, siapa yang salah, siapa pelaku dan siapa korban ?

Banyak buku telah ditulis, baik oleh para ahli sejarah maupun pengamat  asing. Namun misteri itu tetap tidak terungkap tuntas. Kita tahu, sejarah tak pernah selesai ditulis. Ia terus diproduksi, ditafsirkan ulang dan diperdebatkan.

Kisah atau pengalaman yang bermunculan itu melengkapi catatan sejarah bangsa ini. Namun sejarah tak lagi bisa dibekukan dalam satu tafsir. Ia bukan sekedar fakta melainkan bangunan makna yang terus dipengaruhi kuasa, ingatan dan kepentingan.  Dan, masyarakat tidak pernah tunggal.

Tentu saja kita juga bebas bersikap terhadap keragaman ingatan ini. G30S adalah peristiwa kelam.tetapi kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin.

Di tengah keriuhan tentang apa yang terjadi sekian tahun lalu itu, saya selalu ingat pada (Almarhum) Jenderal Agus Widjojo. Dalam salah satu wawancara televisi beberapa tahun lalu, Agus (ketika itu Gubernur Lemhanas), mengusulkan  jalan keluar yang patut dipertimbangkan oleh kita sekarang. “Saya tidak mempersoalkan bentuk tindakan penyiksaan, entah penyayatan atau pemotongan. Itu tidak saya persoalkan,”katanya. Bagi dia penemuan jenazah dengan luka tembak atau tusukan benda tajam sudah merupakan bukti adanya pembunuhan. Namun, ia memilih melupakan dan mengajak segenap bangsa bersatu  melihat ke depan. Sebagai putra salah seorang pahlawan revolusi Mayjen (Anumerta) Sutojo Siswomihardjo, Agus  bisa mengambil jarak dengan peristiwa itu.  Menurutnya, kalau masing-masing pihak bertahan tentang kebenaran menurut keyakinan masing-masing, kita tidak akan maju. Kita hanya akan menghabiskan energi. Mungkin cara Agus melihat peristiwa itu, patut kita teladani.

Tentu saja kita harus tetap menghormati azas fiat justitia ruat caelum bahwa keadilan harus ditegakkan sekalipun langit runtuh. Kita percaya kesalahan bisa dimaafkan, tetapi tidak dilupakan. Semua hanya bisa kita lakukan bila kita memulainya dengan keputusan tidak membalas dendam.

Setiap tahun, insha Allah kita akan diingatkan terus pada Peristiwa G30S, alangkah bijaksananya bila kita mengikuti pandangan Almarhum Agus Widjojo. Ada baiknya juga kita ikuti  pesan Greg S. Barton, seorang penulis dan motivator, “Sejarah adalah masa lalu, ambillah keputusan berdasarkan masa depan….”

Tangerang Selatan, 30 September 2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000