Esai

Monolog Fiksi Kiper Timnas Emil Audero

SW60Plus.com, 10 Oktober 2026, 14:13 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 9x dilihat

SENYAP. Mengapa stadion berkapasitas puluhan ribu manusia ini mendadak bisa sehening kuburan? Aku bahkan bisa mendengar suara rintik gerimis yang menyentuh rumput basah di bawah sepatuku. Aku bisa mendengar suara tarikan nafasku sendiri yang berat, tersendat di tenggorokan. Berebut ruang dengan debar jantung yang memukul-mukul dadaku.

Di sana, di lingkaran tengah lapangan, teman-temanku saling merangkul. Bahu mereka naik-turun, kelelahan setelah seratus dua puluh menit bertaruh nyawa. Wajah mereka pucat, tercekik ketakutan yang sama. Ketakutan yang telah menjajah negeri ini selama puluhan tahun: kutukan Thailand. Hantu masa lalu yang selalu datang untuk merenggut mimpi kami tepat sebelum tangan sempat menyentuh piala. 

Malam ini, hantu itu kembali berdiri di hadapan kami, menjelma menjadi titik putih angker yang berjarak sebelas meter di depanku. Dan di sinilah aku sekarang. Berdiri sendirian di atas garis putih yang memisahkan antara pahlawan dan pesakitan.

Aku berjalan perlahan. Sengaja menyeret langkahku agar waktu berjalan sedikit lebih lambat. Aku berbalik, memunggungi lapangan, lalu berjalan menuju jaring gawang. Kedua tanganku yang terbungkus sarung tangan karet ini meraba tiang sebelah kiri, lalu meraba tiang sebelah kanan. Dingin. Besi ini begitu dingin. 

Aku memeluk mistar gawang ini dalam hati, seolah-olah aku sedang memeluk seluruh luka, seluruh kekecewaan, dan seluruh air mata yang pernah tumpah di stadion ini pada tahun-tahun silam.“Tuhan, jika malam ini adalah waktu penebusan itu, pinjamkan aku kekuatan-Mu,” bisikku lirih. Nafas yang kukeluarkan membentuk embun tipis di udara malam Jakarta yang pekat.

Aku membalikkan badan. Di ujung sana, lelaki berbaju putih itu mulai melangkah. Nattapong Sayriya. Dia adalah algojo penentu mereka. Tatapan matanya tajam, dingin, dan penuh keyakinan. Dia membawa nama besar sebuah negara yang selalu mendominasi kami. Dia membawa keangkuhan sejarah yang enggan runtuh. Di bawah kakinya, bola kulit itu diletakkan.
Aku menarik nafas sedalam yang kubisa. 

Dadaku bidang menantang langit malam. Aku merentangkan kedua tanganku lebar-lebar hingga menyentuh batas ruang. Di Turin, di Genoa, di Milan, di kota penting basis sepakbola Italia itu, aku diajarkan menghitung probabilitas. Aku dilatih membaca sudut kaki penendang, ayunan lengan, dan arah angin.
Otakku secara otomatis bekerja, memindai bahasa tubuh Nattapong. Dia kidal. Pinggulnya sedikit terbuka. Dia akan mengincar sisi kiri bawah gawangku. Dia ingin melepaskan tembakan mendatar yang keras--tipe tendangan yang paling dibenci oleh kiper bertubuh jangkung sepertiku.

Namun, malam ini bukan tentang sains sepak bola Eropa. Malam ini adalah tentang tanah tempat tali pusarku tertanam di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Malam ini adalah tentang air mata petugas kebersihan hotel yang memohon padaku sore kemarin agar memutus kutukan ini. Aku ingat pesannya semalam sebelum berlaga: “Tolong putus kutukan ini Mas Emil.” 

Malam ini adalah tentang jutaan anak-anak di pelosok negeri yang menolak tidur hanya untuk melihat lambang Garuda di dadaku tegak berdiri. Semua harapan, semua doa, dan semua beban sejarah yang maha berat itu sekarang mengerucut, mengecil, dan bertumpu penuh pada sepasang tangan ini.

Aku mengunci tatapan matanya. Kami berduel dalam keheningan yang menyiksa. Aku tidak akan bergerak lebih dulu. Aku tidak akan memberikan dia celah sedikit pun untuk membaca keraguan di wajahku. Aku ingin dia melihat bahwa di bawah mistar gawang ini tidak ada lagi kiper Indonesia yang bisa ditakut-takuti oleh nama besar negaranya. Yang berdiri di sini adalah seorang anak lelaki yang pulang dari perantauan jauh hanya untuk menyerahkan seluruh hidup dan matinya demi ibu pertiwi.

Dia mulai berlari. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dunia di sekitarku mendadak melambat. Riuh rendah stadion yang tadinya sunyi mendadak berdenging di telingaku. Aku melihat kakinya mengayun. Detik itu juga, intuisi yang lahir dari ribuan jam latihan dan ketulusan doa dalam sujudku mengambil alih tubuhku. Pikiran teknis tentang sudut dan momentum lenyap, berganti dengan pasrah yang total.

Bola melesat. Keras. Menghujam deras ke arah sisi kiri gawangku, persis seperti yang kuprediksi. Tanpa ragu, aku melentingkan seluruh tubuhku ke udara malam yang dingin. Aku melempar diriku melintasi batas kemampuan fisikku. Aku merasa seperti sedang terbang menembus kabut kecemasan yang telah mengurung sepak bola kita selama tiga puluh lima tahun. Tangan kananku menjulur, merentang sejauh mungkin, menembus ruang dan waktu yang seolah membeku. Plak…!

Kulit sarung tanganku menghantam permukaan bola dengan telak. Suara benturan itu terdengar begitu indah, begitu magis, seperti suara runtuhnya sebuah tembok raksasa yang mengurung jiwa kami. Aku merasakan getaran bola itu merambat ke lengan hingga ke dadaku. Ujung jariku berhasil membelokkan jalurnya. Memaksa bola kulit itu memantul menjauh dari garis suci yang kujaga.

Tubuhku terjatuh menghantam rumput yang basah. Di detik pertama saat punggungku menyentuh tanah, aku tidak mendengar apa-apa selain keheningan di dalam kepalaku sendiri. Lalu, sedetik kemudian, tanggul itu runtuh. Stadion Utama Gelora Bung Karno meledak dalam histeria yang belum pernah kudengar seumur hidupku. Gemuruh suara manusia pecah bagai guntur yang membelah langit Jakarta. Teman-temanku berlari kencang sambil menangis, mengejarku seolah aku adalah penyelamat hidup mereka.

Namun, aku memilih untuk tetap di sini, di atas rumput yang dingin ini. Aku membalikkan badanku, berlutut, dan menempelkan dahiku ke tanah. Dalam sujud yang sunyi di tengah kegilaan malam ini, air mataku akhirnya tumpah tanpa bisa kubendung lagi. Air mata seorang anak yang telah pulang. Air mata seorang anak yang akhirnya berhasil menepati janjinya kepada tanah leluhur. 

Tangan ini, Tuhan, sepasang tangan ini akhirnya cukup kuat untuk membasuh air mata bangsa ini. Kutukan itu telah mati malam ini. Dan kami akhirnya meruntuhkannya.*


Kisah ini terinspirasi dari kemenangan final Piala FIFA-Asean saat timnas kalahkan Thailand 4-2 lewat adu penalti

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000