Esai

Mengapa Herdman Harus Berteriak

SW60Plus.com, 02 Oktober 2026, 18:32 WIB
Renville Almatsier
Renville Almatsier
· 13x dilihat

BANYAK hal menarik dari pertandingan sepak bola Kamis lalu. Indonesia akhirnya lolos masuk babak final FIFA Asean Cup setelah mengalahkan Bangladesh dengan skor 9-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Skor itu juga menarik karena  menentukan dalam persaingan dengan Malaysia. Di saat yang bersamaan rival utama Indonesia itu mengalahkan tim Singapura dengan skor 6-0 di Bandung.


Dua tim serumpun ini sejak lama mewarisi persaingan ketat di ajang sepakbola Asia, khususnya Asia Tenggara. Hasil kedua pertandingan memang fantastis. Bahkan kini diributkan seolah ada permainan “sepak bola gajah”. Tapi saya tak akan mengulas hal itu. Saya mengamati timnas kita saja yang disebut tim paling mewah, dilihat dari besarnya nilai kontrak kebanyakan pemain yang merumput di Eropa.


Tampaknya tingginya harga pemain tidak langsung mencerminkan kualitas tim. Itu terlihat dari hasil yang kurang menggembirakan. Menang “cuma” 2-0 atas Singapura, timnas tak mampu mengatasi Malaysia dalam pertarungan yang berakhir serie alias tanpa gol.


Saya lebih tertarik menyorot John Herdman. Bukan untuk menilai strateginya. Juga bukan untuk membandingkan dengan pendahulunya Shin Tae-yong  (STY) atau Patrick Kluivert. Soal yang satu ini, memang kurang menyenangkan.  Sebagian pendukung timnas menghujat Herdman dan menyorakkan nama STY sehingga membuat kapten tim, Kevin Diks kecewa berat.  Sayang sekali, publik kita memang begitu.


Lalu, memangnya ada apa dengan Herdman ?
Saya  perhatikan Herdman pada pertandingan itu selalu setia berdiri mengawasi anak asuhnya langsung dari pinggir lapangan. Itu wajar.  Tidak itu saja, ia terus “memamah biak” selama pertandingan berlangsung.. Seperti pelatih-pelatih besar lain, tidak hanya Sir Alex Ferguson atau  Carlo Ancelotti, yang terus mengunyah permen karet  di lapangan, ternyata mantan pelatih timnas Kanada ini juga mempuyai kebiasaan yang sama.


Selain itu, sepanjang pertandingan 90 menit-plus, ia tak henti-hentinya berteriak memberi instruksi. Sambil  berdiri dan kadang hampir jongkok, ia terus mengarahkan permainan timnas melalui teriakan dan gerakan. Tidak saja ketika tim mendapat tekanan, tapi bahkan juga ketika posisi Indonesia jauh di atas angin, sudah leading 6-2 .
Ada berbagai kemungkinan dari sikap atau kelakuan Herdman itu. Banyak pelatih besar yang merasa perlu mendamping timnya di lapangan. Tapi Pep Guardiola, Tomas Tuchel bahkan Patrick Kluivert cukup duduk di bangku ofisial selama tim binaannya bertarung.

Menarik untuk dibahas. Pertama, mengunyah permen seperti Sir Alex dan Ancelotti itu, mungkin cara mereka menenangkan diri dari ketegangan pertarungan, semacam coping behavior atau perilaku kompensatoris. Tapi soal berteriak di lapangn itu ada dua hal penyebabnya.


Pertama, memang  pembawaan pribadi yang bersangkutan.
Yang kedua, pelatih belum percaya penuh pada kerjasama tim asuhannya.  Hal ini yang saya anggap paling relevan. Timnas kita belum siap sebagai kesatuan yang utuh dan padu. Tim yang padu adalah tim yang anggotanya sudah mengenal setiap gerak masing-masing rekannya. Ibaratnya, melihat Messi bergerak, rekannya Rodrigo pasti sudah faham kemana harus mengarahkan umpan.


Nah, dalam soal inilah saya ingin mengungkap analisa saya.
Di dalam pembinaan sepak bola modern, setiap pemain timnas tidak disangsikan lagi keterampilan individunya.  Pembinaan fisik, ausdauer dan terampilan lainnya merupakan porsi dan tugas klub dimana masing-masing bernaung dan dibina. Bila kemudian dikumpulkan sebagai satu tim, misalnya timnas, maka para pemain dipilih sesuai pola strategi yang akan dimainkan pelatihnya  dengan asumsi ketrampilan dasar sudah bukan masalah lagi. Pusat latihan atau training centre diperlukan untuk mempertahankan stamina dan.. ini yang terpenting, membangun kerja sama atau teamwork alias samenspel di antara anggota tim yang berasal dari klub berbeda.


Kembali kepada  Herdman, agaknya faktor ini yang membuat ia terus memberi instruksi kepada Diks, Bagott, Pellupessy dan lain-lain sepanjang pemainan. 
Bisa kita simpulkan kerja sama dalam timnas kita masih belum sempurna ketika TC hanya berlangsung lima hari. Bahkan ada pemain yang baru bergabung dua hari menjelang turun bermain. Ditambah kelelahan perjalanan, jet lag dan lain-lain bukan tidak mungkin kerjasama itu belum terbina sepenuhnya. Dibutuhkan waktu lebih panjang agar kerjasama sesuai pola yang disepakati lebih sempurna agar Herdman bisa lebih percaya pada pemain-pemain pilihanmya. Adalah lebih baik bila para pemain dari tempat-tempat dan klub berbeda itu dikumpulkan dalam waktu lebih panjang, tentu setelah disesuaikan dengan ketentuan FIFA. Dengan begitu Herdman bisa duduk manis di bench tanpa harus berteriak memberi instruksi…


Tangerang Selatan, 2 Oktober 2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000