Feature

Membawa Camino de Santiago ke Bumi Flores

SW60Plus.com, 11 Oktober 2026, 07:23 WIB
Budiman Tanuredjo
Budiman Tanuredjo
· 69x dilihat

MARI Elka Pangestu akan genap berusia 70 tahun, pada 23 Oktober 2026.  Ia memilih merayakan usia itu dengan berjalan kaki sejauh 70 kilometer di Flores, sembari memaknai kembali perziarahan hidupnya. Peringatan ulang tahun ke-70 pada 23 Oktober 2026, adalah hari pertama start Camino de Flores dari Bajawa. 


Melalui Camino de Flores yang dijadwalkan pada 23–27 Oktober 2026, mantan Menteri Perdagangan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu ingin memberi ruang bagi keheningan, doa, dan refleksi. Perayaan usia menemukan bentuknya dalam langkah-langkah kaki.


Mengusung tema “Spiritual Journey Through Nature, Culture, and Faith”, perjalanan yang digagas Mari akan melintasi Bajawa di Kabupaten Ngada, serta Kabupaten Nagekeo dan Ende. Gereja, kampung adat, dan bentang alam, danau Kalimutu akan menjadi bagian dari perjalanan spiritual tersebut. Alam, kebudayaan, dan iman dipertemukan dalam pengalaman berjalan.


Di Anomali Coffee, kawasan Menteng, Jakarta, saya sempat bertanya tentang rencana itu. Mengapa memilih berjalan sejauh 70 kilometer? “Saya ingin memaknai perziarahan hidup saya dengan perjalanan selama 70 kilometer di Flores,” ujar anggota Dewan Ekonomi Nasional di Kabinet Merah Putih ini.


Gagasan tersebut terinspirasi oleh pengalaman Mari menjalani Camino de Santiago menuju Santiago de Compostela, Spanyol, pada tahun 2023. Kini, ia ingin membawa semangat perziarahan itu ke Flores. Perjalanan ini sekaligus menjadi kesempatan menggalang dana bagi mereka yang terdampak gempa di Flores. Refleksi pribadi bertemu dengan kepedulian kepada sesama.


Camino de Santiago memiliki sejarah lebih dari seribu tahun. Tradisi perziarahan ini berakar pada penemuan makam yang diyakini sebagai makam Santo Yakobus, salah seorang rasul Yesus, di Galicia, Spanyol, sekitar tahun 820. Raja Alfonso II dari Asturias dikenal sebagai salah seorang peziarah pertama. Sejak itu, jalan-jalan menuju Santiago de Compostela berkembang menjadi jalur perziarahan yang mempertemukan manusia dari berbagai penjuru Eropa.


“Saya bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai negara. Saya bercakap dengan mereka dalam semangat spiritualitas yang sama,” ujar Mari yang masih tampak sehat di usia ke-70.


Daya tariknya bertahan hingga sekarang. Pada 2025, sebanyak 530.987 peziarah tercatat menerima Compostela, sertifikat penyelesaian ziarah, meningkat sekitar enam persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut mencakup peziarah yang memperoleh sertifikat, bukan seluruh wisatawan yang mengunjungi Santiago de Compostela. Lebih dari setengah juta perjalanan dalam setahun menunjukkan betapa kuatnya daya tarik sebuah tradisi yang memberi ruang bagi manusia untuk berjalan, berdoa, dan memaknai kehidupan.


Pengalaman itulah yang hendak dibawa Mari ke Flores. Dengan kekayaan alam, kampung adat, dan kehidupan imannya, Flores memiliki bahan yang berharga untuk mengembangkan perjalanan ziarah dengan wataknya sendiri. Camino de Flores dapat menjadi pintu untuk mengenal pulau itu lebih dekat, sekaligus menghayati hubungan antara manusia, alam, dan sesamanya.


Wisata Religi
Dari perspektif pariwisata, gagasan ini menarik. Flores memiliki kekayaan alam, tradisi, dan kehidupan keagamaan yang dapat menjadi landasan pengembangan wisata ziarah. Paket perjalanan semacam itu perlu dirancang dengan melibatkan masyarakat setempat, menghormati kesakralan tempat ibadah, serta memberi waktu bagi peziarah untuk menghayati setiap persinggahan.


Langkah Mari membuka kemungkinan tersebut. Di tengah kehidupan yang padat, bising, dan kerap diukur melalui pencapaian material, perjalanan spiritual dapat menyediakan ruang untuk berhenti sejenak, mendengarkan diri sendiri, dan memulihkan kepekaan terhadap sesama.


Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, saya menyertainya bersama sejumlah peserta lain dalam perjalanan menelusuri jejak-jejak Flores di Jakarta. Kami berangkat dari Universitas Atma Jaya, mengunjungi Manggarai, Tugu Proklamasi, Taman Lembang, Gereja Katedral dan Museum Tekstil, lalu kembali ke Atma Jaya. Sebagian perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki, sebagian lainnya menggunakan bus.


Persinggahan di Manggarai membawa kami pada jejak Flores yang menyimpan luka sejarah. Pemandu perjalanan bercerita nama kawasan ini kemungkinan diberikan oleh penghuni awal asal Manggarai, Flores Barat, sebagai pengikat ingatan kepada kampung halaman.  Kehadiran orang-orang Flores di Batavia juga berkaitan dengan sejarah perbudakan pada masa kolonial. Sebagian datang dalam keterpaksaan, tercerabut dari tanah kelahiran. 


Dalam nama Manggarai, ingatan tentang Flores bertahan di tengah perubahan Jakarta. Menapaki kawasan ini menjadi kesempatan untuk mengenang kehidupan mereka dan penderitaan yang ikut membentuk sejarah kota. “Sekarang tak banyak lagi orang Manggarai di sini,” ucap seorang wartawan asal Bajawa, Nusatenggara Timur.


Jakarta menjadi ruang untuk membuka kembali ingatan tentang Flores: tentang orang-orang yang meninggalkan kampung halaman, membangun kehidupan, dan ikut memberi warna pada perjalanan bangsa. Melalui persinggahan-persinggahan itu, kami diajak melihat hubungan antara sebuah daerah dan sejarah Indonesia yang lebih luas.


Di Atma Jaya, jejak tersebut antara lain hadir melalui Frans Seda, salah seorang pendirinya. Perjalanan kami bertepatan dengan momentum peringatan 100 tahun kelahirannya. Kampus ini menjadi titik berangkat yang bermakna, tempat mengenang sumbangan seorang putra Flores bagi pendidikan Indonesia.


Ada sesuatu yang menarik dari cara Mari memaknai usia 70 tahun. Setelah perjalanan panjang di dunia kebijakan dan kehidupan publik, ia memilih menyediakan waktu untuk berjalan. Langkah kaki memberi kesempatan untuk mendengarkan tubuh, menerima kelelahan, memperhatikan sekeliling, dan menimbang kembali pengalaman yang telah membentuk kehidupan.


Angka 70 menjadi penghubung antara usia dan jarak. Setiap kilometer dapat membuka ruang untuk mengenang, bersyukur, atau berdoa. Melalui penggalangan dana, perjalanan itu juga membawa perhatian kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan.


Saya menyertai perjalanan di Jakarta dengan sebuah pikiran: bertambahnya usia dapat menjadi kesempatan untuk memperluas kepedulian. Pengalaman hidup yang panjang memberi kita banyak hal untuk direnungkan, sekaligus alasan untuk tetap terlibat dalam kehidupan sesama.


Mari memilih berjalan. Di Flores kelak, 70 kilometer itu akan menjadi bagian dari caranya mensyukuri 70 tahun kehidupan. Dalam langkah-langkah tersebut, ia membawa ingatan, rasa syukur, dan harapan agar perziarahannya memberi manfaat bagi orang lain.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000