Cacat
BAYANGKAN ada orang yang membangun bisnis delapan tahun, lalu suatu hari dia harus menutupnya. Bukan metafora. Itu benar-benar dialami Alessandro Savelli ketika Savelli Genève, bisnis telepon genggam mewah yang ia bangun.
Lima tahun pertama bisnisnya lancar. Produk telepon genggamnya berharga lebih dari US$100 ribu dicari orang. Namun, kemajuan itu menyurut hingga akhirnya dilikuidasi pada 2016.
Pasti ada perasaan yang sulit diterjemahkan ke dalam laporan keuangan. Tabungannya habis, investor kehilangan uang, dan ia harus menelepon mereka satu per satu untuk menjelaskan apa yang terjadi. Pada titik seperti itu, nasihat paling masuk akal biasanya sederhana: sudah, cari pekerjaan saja.
Ayah Alessandro pun berpikir begitu. Kembali ke dunia keuangan, dapat gaji bulanan, hidup lebih tenang. "Kamu harus makan humble pie (rendah hati). Kamu pria yang cerdas, carilah pekerjaan tetap, mungkin kembali ke dunia keuangan dan hasilkan £4.000 per bulan," kata ayah Alessandro.
Nasihat yang masuk akal—apalagi kalau rekening bank sudah mulai membuat kita takut membuka aplikasi mobile banking. Dana di rekening mengering.
Tapi, Alessandro menolak nasihat tersebut. Di tengah rasa sakit kebangkrutan, ia mengalami terobosan mental tentang esensi kewirausahaan.
"Seseorang yang berprofesi sebagai pengacara, bankir, jurnalis, atau koki yang kehilangan pekerjaannya akan tetap melanjutkan karier di bidang yang sama. Lantas, mengapa ketika seorang wirausahawan mengalami kegagalan bisnis, masyarakat justru menyuruhnya mencari 'pekerjaan normal'? Wirausaha adalah sebuah jalur karier jangka panjang. Kegagalan bisnis pertama bukanlah akhir, melainkan satu anak tangga menuju kesuksesan berikutnya."
Alessandro melihat kegagalan itu sebagai kompas. Kompas memang tidak menghapus kenyataan bahwa kita tersesat, tetapi setidaknya memberi tahu ke mana harus berjalan berikutnya.
Ia kemudian membangun Pasta Evangelists. Jangan membayangkan setelah itu hidupnya langsung seperti unggahan LinkedIn: failed, learned, bounced back, success. Tahun pertamanya malah cuma menghasilkan sekitar 200 kotak pasta. Alessandro mengaku menangis hampir setiap hari selama sekitar satu setengah tahun. Teman-temannya bahkan menjulukinya guru kegagalan. Sedang berusaha bangkit, malah diberi gelar profesor kegagalan.
Lalu sesuatu berubah. Bukan karena ia tiba-tiba menemukan resep rahasia bisnis, tetapi karena ia mulai mendengar dengan serius.
Alessandro membaca sendiri sekitar 3.500 ulasan pelanggan. Bukan hanya yang berbintang lima dan enak dipajang di presentasi, tetapi juga keluhan yang kadang membuat pemilik bisnis ingin menutup laptop. Ketika pelanggan mengatakan saus mereka terlalu kering saat tiba, ia tidak sibuk menjelaskan bahwa produknya sebenarnya bagus. Ia mengubah produknya.
Kadang jalan terbaik dalam bisnis justru ditemukan setelah rencana berantakan total.
Beberapa tahun kemudian, ceritanya berubah. Pasta Evangelists masuk Ocado, jaringan supermarket online dan platfom teknologi grosir dari Inggris, permintaannya melonjak saat pandemi. Lalu pada 2021 diakuisisi Barilla – pemain industri pasta dari Italia -- dengan nilai sekitar £40 juta. Kegagalan pertamanya tidak hilang dari sejarah. Justru pengalaman itu ikut membentuk cara Alessandro menjalankan bisnis berikutnya.
Cerita Joel Rémy Parkes bahkan lebih ganjil. Ia membangun bamboo bamboo, bisnis perlengkapan makan anak. Suatu hari datang 5.000 piring berbentuk gajah yang ukurannya salah. Belalainya kependekan, telinganya kebesaran, dan bentuk keseluruhannya tidak seperti desain yang direncanakan. Untuk bisnis kecil dengan kas terbatas, 5.000 kesalahan bukan sekadar masalah produksi. Itu bisa menjadi jalan pintas menuju bangkrut.
Joel akhirnya mengambil risiko dan menjualnya dengan jujur.
Dalam 48 jam, semuanya habis.
Ternyata konsumen melihat sesuatu yang tidak dilihat Joel. Ukuran yang dianggap salah justru pas untuk porsi balita dan meja makan bayi. Produk “cacat” itu malah menjadi salah satu produk terlarisnya.
Di sinilah paradoks kegagalan menjadi menarik. Kita ingin belajar dari kesalahan, tetapi sering kali terlalu malu untuk benar-benar melihat kesalahan itu. Di kantor, kita bicara tentang inovasi, eksperimen, dan growth mindset. Tetapi begitu proyek gagal, pertanyaan pertama masih sering: “Ini salah siapa?”
Padahal bagi seorang manajer, mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih berguna: “Kegagalan ini sedang mencoba memberi tahu kita apa?”
Itulah mengapa Alessandro membaca ribuan ulasan, sementara Joel kemudian justru mencari ulasan berbintang satu. Kritik tidak lagi diperlakukan sebagai serangan terhadap ego, tetapi sebagai data.
Tentu tidak semua kegagalan akan berubah menjadi bisnis £40 juta. Tidak semua barang cacat akan mendadak sold out. Mengatakan demikian justru membuat kegagalan terdengar terlalu romantis. Ada kegagalan yang memang mahal, menyakitkan, bahkan tidak pernah terbayar kembali.
Tetapi organisasi bisa memilih apa yang dilakukan setelahnya. Pemimpin bisa sibuk mencari kambing hitam, atau berhenti sebentar dan membaca kompasnya: asumsi apa yang ternyata salah, suara pelanggan mana yang selama ini diabaikan, dan keputusan apa yang sekarang harus diubah?
Mungkin itu pembeda antara organisasi yang sekadar pernah gagal dan organisasi yang benar-benar belajar. Sebab yang paling berbahaya bukan kehilangan arah, melainkan membuang kompas hanya karena kita tidak menyukai arah yang ditunjukkannya.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Shaw, D. (2026). Fail smarter: Lessons from the best on turning setbacks into breakthroughs. Profile Books.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar