Esai

Antara Pusaka Kresna dan Kecerdasan Buatan

SW60Plus.com, 03 Oktober 2026, 06:22 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 11x dilihat

DISKURSUS mengenai Artificial Intelligence (AI) dalam grup WhatsApp memunculkan keinginan saya untuk menulis tentang kecerdasan buatan. Sejalan dengan ketertarikan saya pada dunia pewayangan, saya pun mencoba membuat analogi yang bukan sekadar otak-atik gatuk.


Dalam dunia pewayangan, dikenal istilah pusaka atau jimat, yaitu benda yang dimiliki seorang kesatria atau raja dan menjadi andalannya. Salah satu pusaka Kresna, hadiah dari dewa, bernama Kaca Paesan. Cermin ini dapat mengungkap rahasia suatu benda atau seseorang. Intinya, Kaca Paesan memungkinkan pemiliknya melihat sesuatu yang tidak terlihat.

Mari kita renungkan sejenak fragmen wayang berikut ini.

Bima sedang menghadapi lawan yang sangat sakti. Berbagai cara telah dicoba, tetapi musuh itu tidak mudah dikalahkan. Bima kemudian menyampaikan kesulitannya kepada Kresna.

Kresna tidak langsung menjawab. Ia menggunakan Kaca Paesan untuk melihat sesuatu yang tidak mudah dilihat oleh manusia biasa.

Berdasarkan apa yang dilihatnya, Kresna kemudian berkata kepada Bima:

“Yang tepat menghadapi musuhmu adalah Hanoman.”

Bima heran. Mengapa harus Hanoman? Bukankah dirinya memiliki kekuatan yang luar biasa?

Kresna seolah ingin mengatakan bahwa persoalan tidak selalu dapat diselesaikan oleh orang yang paling kuat, tetapi oleh pihak yang paling sesuai dengan karakter persoalan tersebut.

Hanoman memahami isyarat Kresna. Ia mengetahui siapa yang akan dihadapinya: jelmaan sukma jahat Rahwana yang mewujud sebagai seorang resi.

Di sinilah kearifan wayang dapat menjadi sandingan dalam perbincangan mengenai perkembangan teknologi digital.

Berkenaan dengan AI, saya terdorong untuk mencari berbagai referensi. Bukan semata-mata untuk menambah pengetahuan tentang teknologi yang berkembang begitu cepat, melainkan juga sebagai bahan penulisan esai ini.

Saya kemudian menemukan bahwa pembicaraan mengenai AI jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan mesin menjawab pertanyaan atau menghasilkan tulisan. Di dalamnya terdapat persoalan data, pembelajaran mesin, pola, prediksi, pengambilan keputusan, bahkan etika dan hubungan manusia dengan teknologi.

John McCarthy, salah seorang pelopor kecerdasan buatan, mulai memperkenalkan istilah Artificial Intelligence pada 1955. Ia mendefinisikannya sebagai “the science and engineering of making intelligent machines”, yakni ilmu dan rekayasa untuk membuat mesin cerdas.

Perkembangan AI kemudian bergerak jauh lebih luas. Sistem AI kini dapat melakukan berbagai tugas yang sebelumnya diasosiasikan dengan kecerdasan manusia, seperti memahami bahasa, mengenali gambar, belajar dari data, melakukan penalaran, serta menghasilkan prediksi atau respons. Stanford Human-Centered Artificial Intelligence menjelaskan bahwa AI modern banyak bekerja dengan menemukan pola dalam data, kemudian menggunakan pola tersebut untuk menghasilkan prediksi atau respons.

Dari referensi tersebut, saya menemukan titik yang menarik untuk menghubungkan AI dengan Kaca Paesan.

Kaca Paesan membantu Kresna melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh Bima. AI membantu manusia menemukan pola yang tidak mudah terlihat melalui pengamatan biasa.

Tentu saja, Kaca Paesan dan AI bukanlah sesuatu yang sama. Kaca Paesan merupakan bagian dari simbolisme pewayangan, sedangkan AI adalah teknologi masa kini dan masa depan yang bekerja melalui data, algoritma, model, dan komputasi.

Namun, keduanya dapat dipertemukan pada satu gagasan: kemampuan manusia untuk melihat dapat diperluas melalui sarana di luar kemampuan pengamatan biasa.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

AI dapat menemukan pola, tetapi menemukan pola tidak selalu berarti memahami makna. AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi rekomendasi bukanlah keputusan. AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan, tetapi jawaban tersebut belum tentu benar.

Hal ini diperlihatkan dalam penelitian Sebastian Farquhar dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2024. Mereka menunjukkan bahwa large language models dapat menghasilkan keluaran yang salah dan tidak berdasar, tetapi disampaikan dengan bahasa yang sangat lancar. Mereka mengembangkan pendekatan semantic entropy untuk membantu mendeteksi ketidakpastian dan sebagian bentuk keluaran keliru yang mereka sebut confabulations.

Penelitian mengenai faktualitas AI oleh Isabelle Augenstein dan sejumlah peneliti lain, yang diterbitkan dalam Nature Machine Intelligence, juga menunjukkan bahwa large language models memiliki kemampuan yang sangat berguna, tetapi sekaligus menghadapi tantangan dalam menghasilkan informasi yang selalu faktual. Karena itu, pemeriksaan fakta tetap diperlukan dalam penggunaan AI.

Temuan  tersebut mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: kemampuan menghasilkan jawaban tidak identik dengan kemampuan menghasilkan kebenaran.

Jika AI kita ibaratkan sebagai Kaca Paesan, kita perlu menyadari bahwa apa yang tampak melalui “cermin” teknologi tetap harus diperiksa dan dipahami manusia.

Pada ChatGPT, misalnya, pengembang menyertakan pengingat: “ChatGPT dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.”

Kaca Paesan membantu Kresna melihat, tetapi tidak mengambil keputusan untuknya. Kresna tetap harus memahami dan mencermati apa yang dilihatnya. Dalam fragmen di atas, Kresnalah yang menentukan bahwa Hanoman merupakan pihak yang tepat untuk menghadapi musuh Bima.

Dalam analogi ini, AI membantu manusia melihat pola dan informasi yang tersembunyi. Kresna melambangkan kebijaksanaan manusia dalam memahami informasi dan menentukan arah. Hanoman melambangkan tindakan nyata untuk menyelesaikan persoalan. Demikian pula manusia perlu menghubungkan informasi, pertimbangan, dan tindakan.

Dengan demikian, AI lebih tepat dipandang sebagai pendukung kecerdasan manusia, bukan pengganti manusia.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Fei-Fei Li, ilmuwan komputer dari Stanford dan salah satu tokoh utama pendekatan Human-Centered AI. Dalam pendekatan ini, manusia beserta kebutuhan, nilai-nilai, dan kesejahteraannya ditempatkan sebagai pusat pengembangan dan penerapan AI.

Karena itu, perkembangan AI menghadirkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar apakah mesin dapat menjadi semakin pintar.

Pertanyaannya, setidaknya menurut saya, adalah: “Apakah manusia akan menjadi semakin bijaksana ketika memiliki mesin yang semakin cerdas?”

Jawabannya sangat mungkin: “Belum tentu.” Sebab, teknologi dapat memperluas kemampuan manusia, tetapi tidak otomatis memperluas kebijaksanaannya.

AI dapat membantu kita memperoleh informasi dengan cepat. Namun, manusia tetap perlu bertanya: apakah informasi tersebut benar, apakah datanya memadai, apakah terdapat bias, dan apa akibatnya apabila informasi tersebut digunakan untuk mengambil keputusan?

Karena itu, di tengah perkembangan AI, kita justru membutuhkan kemampuan manusiawi yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar pengolahan data: akal sehat, pengalaman, etika, empati, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. ***

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000