Esai

20 Menit

SW60Plus.com, 04 Oktober 2026, 07:50 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 10x dilihat

MALAM 9 Juni 2003, Rob Mather sedang duduk di sofa rumahnya di London. Ia hendak mematikan televisi. Tetapi, karena tidak terlalu terampil menggunakan remote, ia malah pencet tombol pindah saluran. 


Hikmahnya, kesalahan kecil itu mempertemukannya dengan Terri, seorang anak yang ketika berusia kurang dari dua tahun mengalami luka bakar hingga 90 persen tubuhnya. Terri mengalami kecelakaan tragis saat ibunya yang kelelahan tidak sengaja meninggalkan rokok yang masih menyala di dekat tempat tidurnya.
Kebakaran terjadi dan Terri menderita luka bakar hingga 90% di sekujur tubuhnya. Terri terus berusaha walau sakit terasa begitu berat.


Rob menonton kisahnya dan menangis. Dia punya dua anak. Dia merasa susah membayangkan pengalaman Terri.


Biasanya kisah seperti itu berakhir ketika televisi dimatikan. Kita tersentuh, menghela napas, mungkin memeluk anak sedikit lebih erat, lalu keesokan pagi hidup kembali berjalan seperti biasa.


Tetapi bagi Rob, tidak. Keesokan harinya ia menulis di Mumsnet dan mengajak orang melakukan renang amal untuk Terri.


Awalnya ia hanya mengajak dua teman berenang sejauh 22 mil. Entah bagaimana, ide sederhana itu berkembang hingga sekitar 10.000 orang dari 73 negara ikut berenang dan dana yang terkumpul cukup untuk membantu kebutuhan perawatan Terri sepanjang hidupnya.


Seharusnya cerita selesai di sana. Tetapi setelah semuanya berhasil, orang-orang justru bertanya, “Tahun depan kita mau melakukan apa?”


Pertanyaan itu akhirnya mengubah arah hidup Rob. Selama ini, sebenarnya ia sudah memiliki kehidupan yang oleh banyak orang disebut berhasil: lulusan Cambridge University dan Harvard Business School, karier cemerlang, serta posisi eksekutif di perusahaan media internasional.


Pekerjaan ini memperbaiki angka. Margin naik, kinerja membaik, lalu bonus mengikuti.


Sekarang Rob mulai mempertanyakan angka-angka itu. Kalau kemampuan menghitung, mengorganisasi, dan menggerakkan orang bisa menghasilkan begitu banyak keuntungan, mungkinkah kemampuan yang sama menghasilkan sesuatu yang lebih berarti?


Ia mempelajari berbagai persoalan dunia. Penyakit Jantung? Sebagian besar adalah masalah negara kaya. Riset Kanker? Sudah menerima alokasi dana yang sangat besar. Ranjau Darat?  Terlalu sarat muatan politik. Air Bersih, Diare, atau TBC?Sangat rumit dan membutuhkan biaya triliunan


Akhirnya berhenti pada malaria. Saat itu penyakit tersebut menyebabkan ratusan juta kasus dan membunuh ribuan anak setiap hari, sementara salah satu cara pencegahannya ternyata bukan teknologi futuristik, melainkan kelambu berinsektisida yang harganya hanya beberapa dolar.


Di sana, Rob tiba-tiba merasa hidup memang kadang aneh. Ia tidak membutuhkan bakat baru; ia hanya membutuhkan tujuan yang lebih besar untuk bakat lamanya.
Rutger Bregman dalam Moral Ambition mengajak kita melihat karier dengan cara serupa. Kita terlalu sering bertanya pekerjaan apa yang cocok untuk kita, berapa penghasilannya, atau seberapa tinggi kita bisa naik, tetapi jarang bertanya: masalah apa yang cukup penting untuk menerima tahun-tahun terbaik hidup kita?


Rob memilih malaria, tetapi ia tidak memulainya dengan rencana strategis seratus halaman. Ia memakai aturan 20 menit: jika sebuah ide memang penting, apa yang bisa dilakukan dalam 20 menit ke depan?


Rob kemudian menelepon 20 orang, dan tindakan kecil itu berkembang menjadi gerakan yang pada 2005 menghimpun lebih dari 250.000 perenang di sekitar 160 negara. Ia akhirnya meninggalkan peluang karier korporat yang menggiurkan dan memusatkan energinya pada organisasi yang didirikannya, Against Malaria Foundation.


Menarik, Rob tetap jadi dirinya sendiri. Ia tetap terobsesi pada angka, efisiensi, data, dan hasil; donasi dilacak, distribusi kelambu diperiksa, dan dampak diukur.
Yang berubah hanyalah angka apa yang menurutnya layak dikejar. Dulu angka itu berbentuk margin keuntungan, sekarang berupa jumlah manusia yang bisa terlindungi dari malaria.


Bertahun-tahun kemudian, AMF membagikan kelambu di West Nile, Uganda. Di sebuah desa kecil berpenduduk sekitar 700 orang, sebelumnya tercatat 357 kasus malaria dan dua anak meninggal. Tetapi, enam bulan setelah pembagian kelambu jumlah kasusnya tinggal tujuh.

Kadang hidup berubah bukan karena rencana besar, tetapi satu kejadian kecil. Dan kadang kejadian itu sangat sederhana, salah menekan remote televisi!

Bulan berikutnya, angkanya menjadi nol. Seorang tetua desa bernama Mohammed bahkan berjalan sekitar enam mil menuju kantor Palang Merah agar bisa mengirimkan pesan kepada Rob di London.


Pesannya singkat saja. “Mr. Rob, malaria sudah tidak ada lagi di kampung kami.” Tidak ada grafik, presentasi, atau bonus tahunan dalam pesan itu—hanya satu kalimat dari sebuah desa ribuan kilometer jauhnya.


Dan mungkin di situlah semua angka dalam kehidupan Rob akhirnya menemukan maknanya. Bertahun-tahun ia menggunakan kemampuan terbaiknya untuk membuat angka bergerak, tetapi kini satu angka yang paling membuatnya terharu justru bukan angka yang naik, melainkan angka yang turun menjadi nol.


Kita mungkin tidak perlu berhenti bekerja besok pagi atau mendirikan yayasan. Tapi setiap orang punya keahlian yang sudah lama dipelajari. Mungkin itu kemampuan menjual, memimpin, berhitung, menulis, membuat sistem, atau membujuk orang lain.
Selama ini kita mungkin sibuk bertanya, “Seberapa jauh kemampuan ini bisa membawa saya?” Kisah Rob Mather meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: “Seberapa jauh kemampuan saya bisa membawa orang lain?”


Rob tetap orang yang menyukai angka; ia hanya mengganti angka yang dikejarnya. Dulu ia bekerja agar margin naik, kemudian ia bekerja agar kematian turun.
Sampai suatu hari, dari sebuah desa kecil di Uganda, datang angka yang mungkin lebih berharga daripada seluruh bonus yang pernah diterimanya. Angka itu hanya terdiri dari satu karakter: nol.
Sebab mungkin tragedi terbesar bukan hidup tanpa kemampuan, melainkan memiliki kemampuan besar—lalu menghabiskannya untuk mengejar sesuatu yang terlalu kecil.


Edhy Aruman

JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN
Bregman, R. (2025). Moral ambition: Stop wasting your talent and start making a difference. (E. Moore, Trans.). Little, Brown and Company.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000